Thursday, 17 August 2017

Hukum Berobat Dengan Barang Haram

Hadits Tentang Larangan Berobat 

Dengan Barang Haram


Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya dari hadits abu Darda bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan menurunkan obatnya dan menjadikan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah dan jangan kalian berobat dengan yang haram ( diriwayatkan juga oleh ath-thabrani, para perawinya tsiqah ( terpercaya )

Dalam kitab Sunan dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah melarang menggunakan obat-obat yang kotor (najis menurut syara).

Dalam Shahih Muslim dari Thariq bin Suwaid Al-Ja'fi, diriwayatkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi tentang Khamer, maka nabi melarangnya atau tidak senang ia membuat minuman itu. Ia berkilah bahwa ia membuatnya untuk dijadikan obat. Rasulullah SAW menanggapi, Khamer itu bukan obat, melainkan penyakit.

Sementara dalam As-Sunan diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang khamr yang dicampurkan dengan obat. Beliau bersabda, "Khamer itu penyakit bukan obat". Diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi.

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Thariq bin Suwaid Al-Hadrami bahwa ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya di Negeri kami terdapat banyak anggur yang kami jadikan minuman (wine) kemudian kami meminumnya . Beliau Menjawab "Jangan! Aku kembali mengulangi pertanyaan lalu aku menjelaskan bahwa kami biasa memberikannya sebagai obat untuk orang sakit. Beliau bersabda "Sesungguhnya Khamer itu bukanlah obat, melainkan penyakit. (dikeluarkan oleh Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Sementara dalam Sunan An-Nasai diceritakan, Ada seorang dokter yang mencampurkan kodok kedalam ramuan obatnya, sementara rasulullah melihatnya. Maka Rasulullah melarang dokter itu membunuh kodok tersebut.

Disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Barang siapa yang berobat dengan khamer, niscaya Allah tidak akan memberinya kesembuhan".

Berobat dengan sesuatu yang diharamkan adalah perbuatan buruk baik menurut akal maupun menurut syariat. Dalam syariat telah kami jelaskan berbagai hadits diatas dan masih banyak yang lainnya.

Sementara menurut logika adalah bahwa Allah mengharamkan sesuatu karena sesuatu itu jelek. Allah tidak pernah mengharamkan yang baik-baik untuk umat ini sebagai hukuman buat mereka sebagaimana yang Allah haramkan terhadap Bani Israil seperti dalam Firman-Nya :

Disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya dihalalkan bagi mereka..." (An-Nisa' : 160)

Allah hanya mengharamkan sesuatu kepada umat ini tidak lain karena kejelekannya. Allah mengharamkanya demi melindungi mereka juga dan menjaga jangan sampai mereka memakannya. Maka tidak semestinya kalau sesuatu yang haram itu digunakan untuk mengobati penyakit dan sejenisnya. Karena kalaupun barang yang haram itu memiliki khasiat menghilangkan penyakit, namun pasti akan menimbulkan penyakit yang lebih parah lagi didalam hatinya karena kekuatan jahat yang dikandung barang haram tersebut. Berarti si pasien telah berusaha menghilangkan penyakit fisik dengan resiko penyakit hati.

Sesuatu yang diharamkan berarti harus dijauhi dan dihindari dengan segala cara. menjadikannya sebagai obat berarti memberi motivasi untuk mencarinya. Itu jelas bertentangan dengan kaidah tujuan syariat.

Demikian juga karena sang pencipta sudah menegaskan bahwa minuman keras itu penyakit. Maka tidak mungkin dijadikan sebagai obat. Minuman keras juga bisa menciptakan perangai buruk pada tubuh dan pikiran seseorang. Karena tubuh secara alami juga akan menerima reaksi dari struktur minuman keras secara nyata sekali. Kalau kinerjanya sudah jelek, pasti tubuh akan meresponnya dengan jelek pula. Lalu bagaimana kalau minuman keras itu sendiri memang sudah jelek secara substansial?. Oleh Sebab itu Allah mengharamkan kepada para hamba-Nya berbagai jenis makanan dan minuman serta pakaian yang tidak baik karena akan berpengaruh buruk pula bagi tubuh
dan kejiwaan seseorang.

Disamping itu, bila obat-obatan haram itu dibolehkan, terutama sekali bila memang amat disukai oleh hawa nafsu, pasti akan menggiring seseorang menikmati keinginan syahwat dan kelezatan semata. Terlebih lagi bila hati seseorang mempercayai khasiat dari obat-obatan haram tersebut, dapat menghilangkan penyakitnya sehingga sembuh sama sekali. Jadilah obat-obatan haram itu sebagai sesuatu yang paling disukainya. Ajaran syariat tentu saja akan menutup jalan ke arah situ sebisa mungkin. Tidak diragukan lagi bahwa terdapat kontradiksi dan kontroversi antara menutup jalan untuk mengkonsumsinya dengan membuka jalan untuk mengkonsumsinya.

Ditambah lagi, bahwa obat haram tersebut sebenarnya tidaklah bertambah membantu pengobatan seperti yang diklaim selama ini.  Bersambung................. 
   

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke blog kami